Minggu, 29 Juni 2008

Man Afraid of Rain, Why oh Why?

“Maaf, aku telat menjemputmu, tadi hujan di dekat rumah.”
“Maaf, kita tidak jadi pergi, tadi hujan di jalan.”
“Maaf, tadi sewaktu aku pergi hujan turun deras sekali, aku jadi nggak jemput kamu.”
“Maaf yang tadi nggak jemput kamu, daripada basah kuyup, dan kamu sakit…”
Pernahkah kita mendengar kata-kata seperti itu, keluar dari mulut laki-laki yang kita tunggu? Kalau menurut saya, sering. Sepertinya ada keterkaitan antara rasa takut laki-laki pada hujan dan menjadi basah. Aneh? Sangat.
Sejak berabad-abad silam, kaum Adam atau laki-laki dikenal sebagai sosok kuat, macho, tidak mudah menyerah. Bahkan laki-laki dikenal sebagai makhluk nomor satu, atau sebagai makhluk yang paling berakal, sementara perempuan sebagai makhluk nomor dua. Di peradaban lama, saat manusia masih mengandalkan mata pencaharian dari berburu dan nomaden, laki-laki adalah pemburu nomor satu dan pelindung kelompok. Perempuan diamankan di rumah untuk menghasilkan dan merawat anak, selain melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Pada masa renaissance dan kejayaan Eropa, perempuan masih berada pada posisi subordinat. Perempuan yang memiliki kekayaan tertentu saja yang dapat bermimpi untuk memiliki pasangan yang terhormat. Coba saja tengok kisah perempuan dalam novel karangan Jane Austen, yang banyak bercerita tentang kehidupan kaum aristocrat dan bangsawan pada abad 18-19 masehi. Elisabeth Bennet, dalam kisah Pride and Pejudice, yang tinggal di keluarga yang tidak kaya tapi berkecukupan, harus melihat dan merasakan saudari-saudarinya ‘ditawarkan’ pada acara-acara tertentu untuk mendapatkan pasangan. Dirinya pun mengalami nasib serupa, meskipun akhirnya bisa menikah dengan laki-laki yang dia cintai, yang kebetulan memiliki kekayaan melimpah. A perfect Cinderella Story, every little girl’s dream, becoming a princess that saved by a prince from the evil dragon and witches.
Kemajuan yang mendera peradaban manusia, ternyata tidak membawa dampak positif yang signifikan bagi kaum perempuan, di luar dari pendidikan bagi kaum perempuan oleh R.A. Kartini, munculnya Megawati Soekarno Putri sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia, dan banyak lagi cerita kemajuan yang dicapai perempuan. Di belahan bumi yang lain perempuan masih berada pada posisi subordinat, menilik kisah perempuan dalam novel non fiksi karangan Nawal El Sadawi membuka mata tentang kondisi perempuan di negara muslim – tidak menggeneralisasikan semua perempuan di banyak negara muslim – yang masih terikat dengan aturan laki-laki sebagai nomor satu. Banyak dari kaum perempuan yang menikah di usia muda, mengalami penyunatan dan penutupan labia hanya untuk memuaskan keinginan kaum laki-laki. Kaum perempuan di beberapa Negara Afrika juga mengalami nasib serupa, seperti yang pernah diceritakan dalam Oprah Winfrey Show beberapa waktu silam. Di Negara berpopulasi terbesar di dunia, China, aturan anak satu untuk setiap keluarga, ‘memaksa’ keluarga ‘menyingkirkan’ anak yang lain, lebih mudah bila anak yang dibuang adalah perempuan. Karena anak laki-laki adalah berharga. Di Korea, dimana neo-confucianisme adalah agama, perempuan adalah subordinat bagi laki-laki. Bila seorang perempuan menikah dengan laki-laki, dia akan terlepas sepenuhnya dari keluarganya. Itu hanya beberapa contoh dari ‘takdir’ perempuan sebagai kaum subordinat, yang sebenarnya diterima sebagai yang seharusnya oleh perempuan sendiri. Di luar dari posisi perempuan sebagai subordinat, di beberapa Negara atau budaya. Kita tetap harus melihat kemajuan yang dicapai oleh perempuan.
Sekarang beralih pada kaum laki-laki, yang selama ini dikenal sebagai makhluk ciptaan Tuhan nomor satu. Bahasa Inggris pun menamai manusia – human being – 'man’. Laki-laki telah dikenai peran sebagai pelindung, tameng bagi segala kesulitan hidup. Laki-laki tidak boleh menangis, laki-laki tidak boleh memiliki ketakutan terhadap suatu hal, dan tidak boleh memakai baju berwarna pink. Laki-laki adalah breadwinner keluarga, pencari nafkah, penerus nama keluarga atau marga. Laki-laki adalah pemimpin agama, pemimpin politik, presiden, dokter, pilot, sopir, pengusaha sukses, dan banyak lagi peran yang dikaitkan pada laki-laki. Bahkan di dunia militer, ada aturan yang mengharuskan laki-laki melindungi perempuan di tempat umum, seperti misalnya ketika naik tangga atau escalator di plaza yang ramai, seorang taruna harus berada di belakang si perempuan, melindungi. Mungkin kita bisa mendaftar peran dan perilaku yang identik dengan laki-laki lebih panjang lagi. Bila dipikir-pikir, laki-laki juga subordinat bagi peran-peran yang dilekatkan baginya. Apakah dia tidak boleh menangis di saat dia tertekan? Bisa gila tuh laki.
Kembali pada persoalan awal. Ada apa antara laki-laki dan hujan? Kenapa mereka yang begitu kuat bisa takut hujan dan menjadi basah? Bila kaum laki-laki ditanya, ada beberapa jawaban yang bisa terlontar.
“Lho, daripada basah waktu ketemu pacar, kan tidak lucu.” (ungkapan laki-laki yang harus tampil ganteng di depan pacarnya.)
“Kalau menjemput pacar dan kehujanan, kasihan dianya, bisa sakit.” (ungkapan laki-laki yang merasa kalau pacarnya harus dilindungi, karena kena hujan berarti penyakit.)
“Besoknya harus kerja atau kuliah, kalau sakit bisa berabe.” (ungkapan laki-laki yang memperhatikan masa depan dirinya)
“Kata mama, jangan hujan-hujanan, bisa sakit.” (ungkapan laki-laki yang sangat memperhatikan kekuatiran ibunya, alias anak mama.)
“Saya baru mencuci motor (atau mobil) saya, eman kalau kena hujan.” (ungkapan laki-laki yang mencintai propertinya dan hemat air.)
Saya naik motor, kalau hujan deras dan maksa pergi, namanya bunuh diri. Kan jalannya nggak keliatan.” (ungkapan laki-laki yang punya motor dan terlalu banyak nonton film thriller, tapi cukup rasional)
“Saya baru dari salon, hujan berarti duit perawatan terbuang percuma dong.” (ungkapan cowok metroseksual yang naik motor dan hemat uang.)
Kalau kena hujan, berarti basah.” (ungkapan laki-laki yang tidak nyambung dengan pertanyaannya. Menjawab dengan jawaban retoris.)
Masih ada 2,5 milyar jawaban berbeda dari laki-laki di muka bumi ini. Kesimpulannya?
Setiap laki-laki berbeda, jawaban yang diberikan mungkin pula berbeda. Kita tidak bisa menggeneralisasikan laki-laki berdasarkan jawaban yang mereka lontarkan di atas. Ada laki-laki yang memang peduli dengan kesehatan dan melindungi pacarnya dari hujan, yang menurut perubahan iklim saat ini mengandung zat asam yang berbahaya untuk kesehatan. Ada pula yang memang hanya mempedulikan dirinya sendiri, khususnya yang mengeluarkan uang banyak untuk perawatan dirinya. Ada juga laki-laki yang memang tidak suka menjadi basah, karena fobia terhadap air. Semua alasan bisa dan tidak bisa dipersalahkan.
Sekarang pertanyaannya adalah, bila menyangkut cinta, perasaan yang mengikat dua individu jadi satu, apakah ketakutan laki-laki terhadap hujan bisa dibenarkan? Ada yang bilang untuk menguji kadar perasaan cinta seorang laki-laki pada perempuan adalah dengan menyuruh laki-laki itu menjemput kekasihnya saat hujan turun. Maukah dia? Atau dia akan melontarkan seribu alasan, seperti tercantum di atas. Apakah laki-laki akan mendahulukan logika, seperti yang seharusnya dilakukan laki-laki, atau mendengarkan kata hatinya yang terikat pada perempuan itu? Apapun alasannya, hanya laki-laki yang bisa menjawab ketakutan atau keengganan mereka terhadap hujan. Perempuan di sisi lain juga bisa mempertanyakan kadar perasaan laki-laki terhadapnya ketika beberapa tetes air dari langit mencegah laki-laki tersebut menjadi pangeran berkuda putih dan menjemputnya ke tempat yang teduh. Bagaimana dengan pasanganmu?

p.s. tulisan ini bisa diperdebatkan, lha wong cuma uneg2 yang muncul tiba-tiba.
ada opini lain?boleh diungkapkan.

3 komentar:

Reny.. mengatakan...

Yah, cowok juga manusia, mizz..

Jadi, ada yg kedap aer dan ada yg kaghak..

Tergantung jenisnya.. Dan kualitasnya..

Hyahahahaa..=D

Vidya mengatakan...

Hehehehe i know. Just wondering are they really the same with my opinion?

dundhee mengatakan...

cieeee.... kok kayaknya jadi curhat n jeritan hati yang paling dalam gitu yaKKK....

huehehehehehehe....

pizzz..^^

tapi, engga semua cowo kayak gitu kok miss...:p